Friday, August 7, 2020

Tentang Gie, Aku, Kamu, dan Ruang Sempit Tanpa Udara.

 

Kau ingat? Dalam ruang sempit di tempat kita saling mengenal dan menjadi seorang budak, alih-alih mencari sebuah kertas diantara tumpukan kertas yang lain, dan entah mulai dari mana, pembicaraan itu bermula.

Tentang seorang pemuda yang sama-sama kita menjadikannya seorang "idola" karena kepribadiannya dan tulisan-tulisannya.

Lalu kita saling bersuara tentang sebuah bait, yang aku dan kamupun sama-sama menjadikannya puisi yang kita sukai. Kita menyukai kata-kata yang tertulis, saling menghapal.
Dan. . .
Kita terhenti pada satu titik.
Di satu bait terakhir yang kita menjadikannya bait paling kita suka di tulisannya.

. . .
Apakah kau akan masih berkata, kudengar derap jantungmu.
Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.
. . .

Kita saling menoleh, tersenyum, lalu tertawa lepas.

. . . 

Hening, 
Lalu kita tersadar, sudah sekian waktu kita ada dalam ruang sempit itu.

Aku menemukannya.
Menemukan beberapa lembar kertas yang kamu cari.
Kamu mengambilnya, tersenyum, dan,
"Terimakasih" ucapmu.

 

Apakah kamu tau, sejak itu, aku menaruh kagum ku kepadamu seperti aku menaruh kagum pada Gie.

Monday, July 29, 2019

Pasar Kuna Lereng Desa Petir: Sensasi Belanja ”Zaman Old” dan Minim Plastik.

Gambar oleh saya sendiri ^^

Jika kalian sedang berkunjung ke Purwokerto, atau kalian yang suka naik Gunung Slamet, ketika sudah turun, jangan lupa mampir dulu yuk ke Pasar Kuna Lereng Desa Petir. Kalau kalian berkunjung ke sini, kalian bakalan ngerasain sensasi belanja zaman dahulu loh. Selain itu, pasar ini termasuk pasar yang minim plastik, karena sebagian besar penjualnya menggunakan daun pisang dan batok kelapa atau bambu sebagai wadah makanan atau minuman yang kita beli, walaupun ada beberapa penjual yang menggunakan plastik untuk makanan yang dibawa pulang, tapi tidak semua loh ya.

Berbicara pasar, kalian jangan ngebayangin Pasar Kuna Lereng ini seperti pasar tradisional yang menjual kebutuhan sehari-sehari ya. Pasar iniseperti pasar dadakan dan sebagai salah satu tempat wisata, makanya bukanya hanya di hari Minggu dan itu dari pagi dan sampai siang aja. Kalau ke sini pun jangan terlalu siang ya, banyak yang sudah habis.

Oh iya, Pasar Kuna Lereng ini berada di kawasan Grumbul Kedung Ngenge, Desa Petir RT 1 RW 4, Kec Kalibagor, Kab Banyumas (TribunJateng). Kalian bisa bawa kendaraan sendiri atau naik ojek online. Nah yang bawa kendaraan disediakan tempat parkir juga loh oleh warga sekitar. Sebelum parkir, kalian bakalan dikasih karcis parkir dan diarahkan untuk memarkirkan kendaraan kalian.

Apasih yang menarik dari pasar ini sehingga harus kita masukkan ke daftar tempat yang harus kita kunjungi ketika di Purwokerto. Yuk kita kulik satu-satu dengan ke sok tahuan saya, hehehe.

Gambar oleh aku juga hi
1. Tidak ada Rupiah dalam Transaksi 
Nah loh, kalau gak ada rupiah, kita bayar belanja pakai apa dong? Disini rupiah hanya berlaku ketika kalian masuk saja. Tidak jauh dari pintu masuk, kalian akan menemukan sebuah bilik yang menyediakan kepeng sebagai alat pembayaran. Kepeng ini terbuat dari batok kelapa dan bulat. Satu kepeng dihargai Rp. 2.000 (Dua Ribu Rupiah). Kalian tinggal menukarkan uang rupiah kalian menjadi kepeng. Kalian gak perlu khawatir ketika kepeng kalian gak habis ya, kepeng ini bisa ditukar kembali dengan uang rupiah kalau kalian memang sudah ingin pulang dan sudah tidak ada transaksi lagi. Jadi gak perlu takut kalau kepeng kalian masih ada sisa.

Nah iniloh "uang" yang berlaku. Gambar oleh akupun.

2.  Para Penjaja yang Berseragam.
Para penjual di sini mengenakan kebaya. Panitianya menyeragamkan yang berjualan di sini menggunakan baju khas jawa. Yang perempuan menggunakan kebaya, dan yang lelaki menggunakan blankon. Nah mungkin ini salah satunya yang membuat sensasi oldnya kalik ya. Sekarang kan jarang ya yang penjualnya di pasar menggunakan baju khas jawa.

Nah ini bajunya, kalau yang laki-laki pakai blankon. Gambar aku yang ambil loh.

3.  Pasar yang Minim Plastik.
Satu hal lagi yang menarik untuk saya di pasar ini selain kepeng adalah minimnya plastik di pasar ini. Wadah yang digunakan untuk makanan dan minuman yang kita beli hampir semuanya terbuat dari batok kelapa ataupun menggunakan daun pisang, beberapa ada yang menggunakan anyaman (kalau makanan berat) dan juga wadah yang terbuat dari kaleng yang sekarang juga lagi banyak yang menggunakan. Ini terbukti dengan banyaknya sampah daun gaeys wkwkwkw. 

4. Bunyi “Kentongan” Setiap Satu Jam Sekali.
Setiap satu jam sekali, para penjual diinstruksikan oleh salah satu panitia dari panggung untuk memukul klentongan beberapa saat. Lalu apasih fungsinya? Katanya sih untuk membangkitkan semangat para penjual.

5. Suasana Mewah “Mepet Sawah”.
Tempat duduk pengunjung di pasar ini dibuat dari bambu yang memanjang. Kalau yang beruntung, kalian bisa duduk menghadap sawah. Enak bukan, sembari minum kopi, ditemani cenil atau getuk, dan mendoang lalu memandang sawah dan termenung (loh) hahaha.
Enakkan minum kopi sambil begini? hihi.. Gambar oleh aku karena itu kopi aku yang beli:( 

6. Jajanan yang Jawa Banget
Ya opo sih jajanan jawa itu? Jajanan yang tersedia di pasar ini ya gak jauh-jauh dari cendol, cenil, getuk, dan sego pecel, ya walaupun ada banyak lagi variasi lainnya, misalnya serabi. Berhubung tadi sudah agak siang ke sini, jadi jajanansudah banyak yang habis. Ada tiga tempat yang membuat saya penasaran dan akhirnya beli jajanan mereka; Gelas Batok, Kopi Ceblak, dan Cenillll kesukaan akooohhhh.




Kerajinan ini adalah satu dari beberapa penjual yang saya antusias banget mau beli barangnya.


Ini Kopi Ceblak dan Wedang Uwuh

7. Hiburan Tradisional
Hiburan di sini diisi oleh satu kelompok orang yang memainkan music tradisional, terkadang mereka juga menawarkan ke pengunjung untuk ikut nyanyi. Satu hal lagi rindu saya pada ayah muncul hari ini karena mereka nyanyi Banyumasan gaeys… .

Nah sekian ulasan saya untuk Pasar Kuna Lereng yang sangat jauh dari kata bagus, karena selain ngantuk dan juga tadi hanya sebentar saja T_T jadi gak banyak tahu.


Tuesday, November 20, 2018

Perihal Ikhlas


Aku tau memangisinya itu melelahkan
Aku ikhlas
Tapi tak dapat kupungkiri bahwa memiliki kehilangan adalah hal tak bisa kuhindari

Perihal sabar itu mudah
Namun menjalanina itu yang susah
Tapi aku tetap bersusah payah
Sebab ku tahu surga itu indah

Lelah rasanya ketika aku harus berpura-pura tegar
Menjadi batu di depan orang yang sangat aku tau kerapuhan jiwanya
Bukan karena aku ingin dikata jagoan
Sebab rasanya tak mungkin aku menimpuki lagi batu pada jiwa yang telah rapuh

Tuhan, kupinjam bahu-Mu untuk rebahku setiap saat
Melepas semua.kesedihanku
Membuang semua keterpura-puraanku
Sebab bukan pada jasad lagi aku telah jatuh
Ruhaniku jauh lebih rapuh
Dan kutahu penawarnya adalah berdua dengan-Mu


Serpong, 18 Oktober 2014



Kota Tua



Senja,
Boleh sedikit aku bercerita?
Dahulu di tempat yang kau bilang tua
Aku pernah mengisahkan tentang cerita yang tak pernah menua
Tentang cinta yang tak luput usia
Ditempat ini, kota yang kau bilang TUA

Kota Tua, 21 May 2014


Subuh Pukul Tujuh Pagi


Disepertiga malam di Jumat pagi itu
Kala keningku mencium pada tempat yang paking rendah
Doa-doa senantiasa keluar dengan seenaknya
Air mata dan permohonan ampunana menyanding si kening di tempatnya
Lalu, Tuhan datang dengan segala Maha-Nya
Ia bertanya perihal inginku
"Apa yang kamu inginkan disisa akhir hidupmu, hamba-Ku?"
Si bibir datang dan mengambil alih
"Aku ingin sederhana dalam hidupku, tapi aku ingin bermewahan dalan ibadahju"
Tuhan menanggapi
"Maka beribadalah sekuat tenagamu hingga Aku yang menggantikan posisimu."
Tuhan pergi meninggalkan aku yang rasa dengan penasaran
Aku sadar
Aku telah terbangun dari mimpi, dan aku tahu,
Aku belum subuh dipukul tujuh pagi


Serpong, 18 Oktober 2014

Neraca


Entah di suatu kota mana
Aku menemui si miskin yang tengah memegangi perutnya
Tulang tangan kanannya menjalar membentuk mangkuk yang siap ditumpahi sayur sop
Si miskin memelas
Berharap ia menerima.belas dari orang bekelas
Lalu terdengar lirih dari kedua bibirnya yang mengering kerontang
"Katanya rakyat miskin dipelihara negara
Tapi mengapa hingga detik kesekian aku masih merasakan lapar yang perih
Katanya petinggi kotaku adalah manusia yang adil
Adil layaknya aset yang diseimbangi penjumlahan hutang dan modal pada bagan neraca
Lalu, mengapa aku masih harus mencari selisih diantara keduanya? "
Perutnya kian meronta bak anak kecil yang menginginkan boneka
Bibirnya layaknya tanah kering yang rindu akan hujan turun
Si miskin semakin memegangi perutnya
Sedang rakyat yang lain tengah asyik memberi makan pada cacing yang hinggap di perutnya

Serpong, 16 Juni 2014

Wednesday, November 7, 2018

"Seperti Tidak Ada New York Hari Ini, Tidak Ada Istirahat Untuk Pekerjaan Ini"




Lima belas menit setelah waktu ini adalah waktu kepulangan bagi para penyembah kapitalis. Aku membuka ponsel pintarku, membuka kuncinya, lalu mencari aplikasi WhatsApp dan ku cari namamu.

"Pilar, kita jadi bareng?". Ku kirim pesan singkat itu untuk memastikan apakah kita jadi untuk pulang ke rumah bersama.

Pesanku tidak langsung sampai. Masih tercentang satu. Aku kesal. Aku mengeluh, sebab aku tidak lagi memiliki cukup pulsa untuk sekedar memberi pesan singkat. "Jika tidak ada kabar bagaimana dengan janji kita?" Gumamku.

Aku menaruh ponsel pintarku di atas meja sebelah kanan dekat dengan kotak tempat aku menaruh dokumen-dokumen kantor. Aku kembali fokus pada layar di hadapan mukaku, lalu mengecek e-mail, mencari email masuk untuk tanggungjawab ku besok.

"Hhhhh" aku mengembuskan napas. "Seperti tidak pernah ada berhentinya kesibukan menjadi penyembah kapitalis yang tidak beruntung" keluhku.

Ping.

Ponsel pintarku berbunyi, menandakan bahwa ada pesan singkat yang masuk ke chat WhatsAppku. Aku mengambilnya, membuka kunci layar dan membaca pesan singkat itu.

"Jadi, di kereta nomor lima ya, di jalur lima arah Serpong", Pilar membalas pesan singkatku delapan menit setelah aku mengirimanya pesan singkat.

"Oke. Nanti gue teng go ya."

"Hati-hati, Enigma." Balasnya.

Lima menit menuju jam lima. Aku dengan segera membereskan semua barang-barang yang sudah ku keluarkan dari dalam tas dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Membereskan berkas, mematikan sistem komputer, lalu menutupnya. Tepat pukul tujuh belas aku beranjak dari meja kerjaku.

***

Tidak akan ada habisnya keluh
Tanpa kau bereskan semua keluhmu.

"Nig, lo udah baca bukunya Aan Mansyur yang Tidak Ada New York Hari Ini?" , Tanyanya ketika aku dan Pilar sudah berdiri di kereta nomor lima, pintu kedua dari depan.

"Belum. Kenapa?" Jawabku.

"Bacalah, lo pasti suka". Ia memalingkan wajahnya dari mukaku ke jalan-jalan yang dibalik kaca kereta.

"Gak ada yang sebagus buku yang gue baca sekarang, Pilar."

"Oh ya?" Tanyanya dengan nada terkejut. "Buku apa?" Lanjutnya.

"Seperi Tidak Ada New York Hari Ini, Tidak Ada Istirahat Untuk Budak Kapitalis yang Tak Beruntung". Aku menjawabnya sembari menatap jalan dari balik kaca kereta.

Aku menghela napas, meliriknya dan kulihat ia tersenyum sambil menahan tawa.

"Seneng banget lo temen susah" ocehku.

"Oh. . .Jadi ini alasan ngajak gue balik bareng. Hahaha. Emang kenapa lagi sih?"

"Nambah." Jawabku dengan nada yang lemah. "Gue capek, Pi. Yang selama ini gue kerjain aja gue gak sanggup, gimana mau ditambahin lagi, coba."

"Ya lo terima lah. Resiko jadi budak kapitalis. Emang enak. Hahaha. Nig, gue kasih tau lo ya, selama lo masih hidup, dan selama lo nyembah kapitalis, kerjaan lo gak akan ada habisnya. Kalau lo gak mau nambah kerjaan, pilihannya ada dua. Usaha atau lo mati."

"Aku menundukkan kepalaku. Melihat lagi keluar jendela. Di luar, titik hujan mulai memenuhi kaca. Dingin, tapi tidak untuk kepalaku. Dia menatapku. Memberi senyum seperti biasanya. "Udahlah, nikmatin aja dulu. Nanti juga akan ada waktunya lo resign."

Dia mendekatkan tubuhnya ke sampingku, kemudian berbisik "Nig, kalau bagi lo seperti tidak ada habisnya kerjaan ini buat lo, kalau gue seperti tidak ada habisnya cinta ini buat lo".

Aku tersentak mendengar katanya. Aku diam, memandangnya dengan wajah biasa.

"Gitu kata rumput sore hari kepada angin. Hahahaha. Lo pasti udah seneng kan gue bilang gitu. Hahaha". Lanjutnya kali ini dengan tertawa yang lepas.

Aku memalingkan mukaku darinya. Sial, dia cuma meledek. Dia tidak pernah tau seberharap apa aku untuk kebenaran kalimatnya yang terakhir.

"Pilar, jangan meledek." Tukasku.

Berbeda dari buku "Tidak Ada New York Hari Ini, Tidak Akan Ada Cinta Untukku Sampai Kapanpun